Jakarta, FORTUNE - Antrean kendaraan di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) wilayah Bali, Kalimantan, hingga Jawa Timur memunculkan evaluasi terhadap tata kelola dan rantai pasok energi domestik. Fenomena kelangkaan ini terjadi bersamaan dengan klaim pemerintah terkait ketahanan stok bahan bakar minyak (BBM) nasional yang mencapai 16–21 hari.
Dosen Praktisi Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia, Ardian Nengkoda, menilai antrean BBM di daerah tidak sekadar bermuara pada persoalan distribusi. Situasi ini mengindikasikan urgensi evaluasi ketahanan rantai pasok dan pengelolaan subsidi.
“Realitas di lapangan jauh lebih kompleks,” kata Ardian kepada Fortune Indonesia, Selasa (20/10).
Ardian memerinci tiga tekanan pemicu kelangkaan, yakni volatilitas pasar energi global, kerentanan rantai pasok domestik, serta keterbatasan ruang fiskal pemerintah.
Dari sisi global, dinamika produksi OPEC+ dan geopolitik berisiko mengerek harga minyak mentah. Kondisi ini berpotensi menambah beban pengadaan BBM, subsidi, serta kompensasi energi pemerintah.
Pada aspek domestik, hambatan distribusi terlihat dari keterlambatan kapal tanker melakukan bongkar muat di Fuel Terminal Sanggaran, Bali. Keterbatasan cadangan operasional memperburuk ketersediaan pasokan saat terjadi lonjakan permintaan masyarakat.
Faktor pemicu lain berasal dari disparitas harga antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi. Selisih harga memicu migrasi konsumsi ke BBM bersubsidi. Di sisi lain, operator terikat pada batasan kuota penyaluran.
“Ketika kuota tahunan dikunci mati demi penghematan fiskal, daerah tidak memiliki diskresi ruang gerak untuk merespons dinamika konsumsi riil di lapangan,” kata Ardian.
Ardian merekomendasikan pembenahan tata kelola dari hulu hingga hilir. Pembenahan ini mencakup penguatan cadangan operasional, perbaikan keandalan distribusi, serta penyesuaian kuota dengan pola konsumsi masyarakat guna mencegah keberulangan gangguan pasokan.
“Ketahanan energi nasional tidak boleh dikorbankan demi efisiensi jangka pendek,” ujar Ardian.
