Musim Sekolah Usai, Permintaan Alas Kaki Mengerem pada Agustus

- Industri kulit dan alas kaki mengalami kontraksi pada Agustus 2026 setelah permintaan pascamusim masuk sekolah mereda, sementara daya beli konsumen turut menjadi perhatian.
- Meski permintaan mengerem, indeks produksi alas kaki naik dari 54,55 pada Juli menjadi 55,70 pada Agustus; pelaku usaha menahan stok di gudang sambil memantau pasar.
- Investasi sektor ini mencapai Rp14,3 triliun pada semester I-2026. Pemerintah mengandalkan momentum Lebaran dan IEU-CEPA untuk memperluas ekspor, dengan syarat memenuhi standar Eropa.
Jakarta, FORTUNE - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan penurunan permintaan menjadi salah satu faktor yang membuat industri kulit dan alas kaki mengalami kontraksi pada Agustus 2026. Pelemahan tersebut terjadi setelah momentum tahun ajaran baru, yang biasanya mendorong permintaan alas kaki berakhir.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, mengatakan permintaan dan produksi produk alas kaki pada Agustus menurun setelah aktivitas pembelian untuk kebutuhan sekolah mereda. Tahun ajaran baru sendiri telah dimulai pada Juli 2026.
"Industri alas kaki itu lebih disebabkan karena permintaan atau produksi atas produk alas kaki pada bulan Agustus itu menurun disebabkan karena musim masuk sekolah sudah berlalu," kata Febri dalam pemaparan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Agustus 2026 yang disiarkan secara virtual, Senin (31/8).
Meski permintaan melemah, aktivitas produksi industri alas kaki masih berada di zona ekspansi. Berdasarkan variabel produksi dalam IKI, indeks industri alas kaki meningkat dari 54,55 pada Juli menjadi 55,70 pada Agustus.
Kondisi tersebut menunjukkan pelaku industri masih mempertahankan produksi meskipun permintaan sedang mengerem. Febri mengatakan industri cenderung menahan produk yang telah diproduksi di gudang dan belum langsung melepasnya ke pasar.
"Industri masih menahan produknya di gudang, belum mau melepas barang ke pasar karena ingin melihat bagaimana perkembangan atau dinamika di pasar," ujarnya.
Pelaku usaha, lanjut Febri, masih mencermati sejumlah indikator ekonomi sebelum meningkatkan pelepasan stok ke pasar. Salah satunya adalah kemungkinan munculnya insentif pemerintah yang dapat mendorong permintaan.
Selain faktor musiman, daya beli konsumen juga menjadi perhatian. Febri menyebut indeks keyakinan konsumen pada Juni 2026 berada di level 116,8. Meski masih berada di atas batas normal 115, level tersebut dinilai cukup rendah dan turut memberikan dampak terhadap permintaan.
Sementara itu, tingkat inflasi masih berada dalam kisaran yang ditoleransi pemerintah. Inflasi pada Juli 2026 mencapai 2,88 persen, masih berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Sri Bimo Pratomo, mengatakan kontraksi industri kulit dan alas kaki juga dipengaruhi ketidakpastian perdagangan dan geopolitik yang berdampak terhadap pesanan luar negeri.
Namun, tekanan tersebut terutama terasa pada industri yang berorientasi pasar domestik. Di sisi lain, komponen produksi masih menunjukkan ekspansi dan investasi pada sektor tersebut tetap tumbuh.
Bimo mencatat investasi industri kulit dan alas kaki mencapai Rp14,3 triliun pada semester I-2026. Pemerintah pun melihat peluang pemulihan ke depan, salah satunya melalui momentum Lebaran dan implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Ratifikasi IEU-CEPA diharapkan membuka peluang lebih besar bagi ekspor produk kulit dan alas kaki Indonesia ke pasar Uni Eropa. Dengan penerapan tarif perdagangan 0 persen, daya saing produk Indonesia di pasar tersebut berpotensi meningkat.
Meski demikian, Bimo mengingatkan pelaku industri perlu memenuhi berbagai standar yang berlaku di pasar Eropa agar peluang dari perjanjian dagang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Ini akan sangat berdampak besar terhadap peluang ekspor kita. Kita harus bisa memanfaatkan perjanjian ini,” ujarnya.




















