Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Install
For
You

PIER Ramal Perekonomian RI Tumbuh 5,3 Persen pada Akhir 2026

PIER Ramal Perekonomian RI Tumbuh 5,3 Persen pada Akhir 2026
Ilustrasi pusat perbelanjaan (pixabay.com/pascalkoenig)
Intinya Sih
  • PIER memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,1–5,3% pada 2026, didorong permintaan domestik namun tertekan risiko eksternal seperti geopolitik dan perlambatan ekonomi Tiongkok.
  • Josua Pardede menilai pertumbuhan kuartal I 2026 sebesar 5,61% positif tapi belum merata karena pelemahan manufaktur, kehati-hatian investasi, serta meningkatnya informalitas tenaga kerja.
  • Investor asing mencatat arus keluar bersih US$1,79 miliar di kuartal I 2026; koordinasi kebijakan fiskal-moneter dinilai penting menjaga stabilitas rupiah dan kepercayaan pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE – Perekonomian Indonesia masih terus dihadapkan dengan ujian. Permata Institute for Economic Research (PIER) menengarai laju pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026 bakal berkisar pada 5,1-5,3 persen. Meski permintaan domestik masih menjadi mesin utama, hantaman badai eksternal mulai menggoyang ketahanan ekspor dan stabilitas pasar keuangan.

Kendati pertumbuhan pada kuartal I-2026 sempat menyentuh 5,61 persen—capaian yang disebut Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede, sebagai prestasi kredibel—realita di lapangan menyisakan wasangka. Angka mentereng itu dianggap belum mencerminkan perbaikan kualitas secara menyeluruh.

“Perlambatan belanja modal, kehati-hatian rekrutmen, tekanan biaya, pelemahan manufaktur, dan volatilitas pasar keuangan menunjukkan bahwa kualitas pertumbuhan perlu mendapat perhatian serius,” kata Josua di hadapan pers di Jakarta, Selasa (12/5).

Keraguan Josua bukan tanpa alasan. Di pasar tenaga kerja, meski tingkat pengangguran terbuka pada Februari 2026 mencapai 4,68 persen, ada anomali mencemaskan. Di balik penyerapan 147,67 juta pekerja, proporsi pekerja formal justru menyusut tipis 0,02 poin persentase. Sebaliknya, angka pekerja paruh waktu justru meningkat 0,16 poin.

“Risiko yang muncul bukan lonjakan pengangguran besar, melainkan meningkatnya informalitas dan tekanan pendapatan kelompok menengah bawah,” kata Josua.

Kelesuan serupa merambat ke sektor riil. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis kuartal I-2026 memang masih berada di zona ekspansi dengan 51,37. Namun, ritmenya melambat dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai 52,21.

Sinyal bahaya pun menyalak pada April lalu: PMI Manufaktur terjun ke level 49,1. Angka ini menandakan kontraksi. Sebab, output menurun, biaya input melonjak, dan keyakinan para pelaku usaha mulai luntur.

Dinamika pada sektor riil ini berkelindan dengan kegelisahan di pasar keuangan. Investor tampak masih dihantui oleh pelemahan rupiah, kenaikan harga energi, hingga sempitnya ruang bagi penurunan suku bunga.

Tak pelak, pasar domestik harus rela melihat arus modal keluar bersih (net outflow) mencapai US$1,79 miliar pada kuartal I-2026, walaupun instrumen SRBI masih mampu memikat dana masuk senilai US$1,64 miliar.

Menghadapi situasi ini, Josua menekankan pentingnya harmoni antara kebijakan fiskal dan moneter. Menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan pasar menjadi harga mati di tengah dinamika global tak menentu.

“Pemerintah perlu menjaga daya beli, mempercepat belanja produktif, dan menjaga kredibilitas APBN,” ujarnya.

Share
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Related Articles

See More