Pendapatan Kaspersky Tumbuh 4 Persen pada 2025, Didorong Portofolio B2B

Pendapatan globalnya mencapai US$836 juta pada 2025, tumbuh 4 persen dalam setahun (YoY).
Di Asia Pasifik, pendapatan Kaspersky naik 4 persen, didorong pertumbuhan segmen B2B sebesar 12 persen, enterprise 22 persen, dan non-endpoint hingga 40 persen.
Di Indonesia, pendapatan tumbuh 3 persen berkat lonjakan segmen B2C sebesar 48 persen.
Jakarta, FORTUNE - Kaspersky pada 2025 meraih pendapatan US$836 juta atau lebih dari Rp14,21 triliun. Angka ini tumbuh sebesar 4 persen secara tahunan (YoY).
Managing Director untuk Asia Pasifik di Kaspersky, Adrian Hia, mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan pada departemen penjualan sebesar 16 persen dari portofolio produk B2B perusahaan.
Sementara itu, di Asia Pasifik sendiri Kaspersky merekam pertumbuhan pendapatan sebesar 4 persen.
Secara terperinci, pendapatan Kaspersky di kawasan tersebut tumbuh 12 persen (YoY) pada segmen B2B dan 22 persen (YoY) pada segmen enterprise.
Sementara itu, segmen perusahaan non-endpoint (contohnya server dan cloud) mencatatkan pertumbuhan 40 persen.
Dari segmen B2C, Kaspersky mencatatkan pertumbuhan sebesar 19 persen.
“Karena Asia Pasifik memimpin dunia dalam transformasi digital, penggunaan AI, dan adopsi cloud, hasil kuat kami yang konsisten di Asia Pasifik menunjukkan bahwa Kaspersky berada pada posisi strategis untuk mengamankan perluasan digital di kawasan ini,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (8/4).
Sedangkan di Indonesia, Kaspersky mencetak pertumbuhan pendapatan yang positif, yakni sebesar 3 persen (YoY). Segmen B2C Kaspersky menjadi pendorong utama pertumbuhan tersebut, dengan peningkatan 48 persen.
Optimistis Tumbuh Double Digit
Pada tahun ini, Kaspersky optimistis dapat membukukan pertumbuhan pendapatan double digit secara global, meski tengah menyaksikan konflik geopolitik.
“Karena ada pertambahan jumlah orang [tenaga kerja]. Tapi justru geopolitik itu bukan ancaman ya, itu peluang,” ujar Country Manager Kaspersky Indonesia, Defi Novitra.
Defi menilai Kaspersky sebagai perusahaan dengan harga layanan produk cenderung terjangkau. Sehingga, penurunan daya beli dianggap bukan menjadi masalah.
Sementara itu, Defi mencermati bahwa di Indonesia kontributor terbesar pendapatan masih berasal dari portofolio endpoint protection.
“Sekarang itu portofolionya lebih dari 50 persen masih endpoint di laptop, mobile phone, dan tab,” katanya.

















