Jakarta, FORTUNE - Perusahaan global mulai mempercepat langkah dalam mengadopsi teknologi Physical AI (PAI) seiring meningkatnya kebutuhan efisiensi dan transformasi operasional di sektor industri. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Deloitte bertajuk “Physical AI: The Moment of Acceleration” yang dirilis di Singapura pada 13 April 2026.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa PAI—yang menggabungkan sistem fisik dengan kecerdasan buatan—sedang bergerak dari tahap uji coba menuju implementasi skala besar di berbagai sektor. Namun, tingkat adopsi saat ini masih terbatas. Dari lebih dari 3.000 eksekutif yang disurvei, hanya 5 persen yang menyatakan PAI telah mentransformasi organisasi mereka, jauh di bawah adopsi AI tradisional dan machine learning yang mencapai 45 persen.
Meski demikian, prospek pertumbuhannya dinilai signifikan. Sekitar 41 persen responden meyakini PAI akan memberikan dampak transformasional dalam tiga tahun ke depan. Sementara itu, tingkat integrasi penuh PAI diperkirakan meningkat dari 3 persen saat ini menjadi 18 persen dalam dua tahun mendatang.
Adopsi tertinggi diprediksi terjadi di sektor konsumen serta ilmu hayati dan kesehatan, masing-masing sebesar 22 persen. Disusul sektor teknologi, media, dan telekomunikasi sebesar 18 persen, serta energi, sumber daya alam, dan industri sebesar 16 persen.
Robotika industri menjadi salah satu area yang paling matang dalam penerapan PAI dan dinilai sebagai fondasi penting untuk ekspansi lebih luas. Pada 2024, lebih dari 500.000 robot industri telah digunakan secara global dan jumlahnya diproyeksikan meningkat menjadi 700.000 unit pada 2028. Selain itu, hampir 65.000 robot kolaboratif telah terpasang pada tahun yang sama.
"Physical AI menandai momen di mana kecerdasan tidak lagi hanya ada di layar tapi hadir secara nyata, mengubah pabrik menjadi sistem yang bisa merasakan, berpikir, dan terus belajar. Organisasi-organisasi yang sudah bergerak sekaranglah yang akan menentukan standar, keterampilan, dan cara kerja industri selama sepuluh tahun ke depan," ujar Chris Lewin, Deloitte Asia Pacific AI Lead, dalam keterangan resmi.
Meski potensinya besar, Deloitte mencatat sejumlah hambatan utama dalam adopsi PAI. Sekitar 41 persen perusahaan menghadapi kendala biaya dan sumber daya, 36 persen kesulitan menentukan use case yang tepat, 33 persen mengalami kekurangan talenta, dan 31 persen terkendala teknologi atau ketersediaan data.
Laporan tersebut menekankan bahwa keberhasilan implementasi PAI tidak hanya bergantung pada kesiapan teknologi, tetapi juga pada kematangan operasional organisasi. Tanpa fondasi operasional yang kuat, manfaat teknologi canggih ini dinilai tidak akan optimal.
“Ada faktor-faktor kesiapan internal yang menentukan seberapa efektif sebuah bisnis dalam menerapkan dan mengembangkan solusi PAI, sekarang maupun ke depannya. Yang terpenting, faktor-faktor ini ada dalam kendali organisasi itu sendiri. Keberhasilan implementasi PAI bukan hanya soal mengadopsi teknologinya, tapi juga soal kemampuan untuk beradaptasi," kata Lewin.
Untuk mempercepat adopsi, Deloitte China juga meluncurkan Physical AI Center of Excellence (CoE) di Shanghai. Pusat ini dirancang untuk membantu perusahaan beralih dari proyek percontohan menuju implementasi skala penuh melalui simulasi digital dan integrasi teknologi di lingkungan nyata.
Shanghai memiliki posisi strategis sebagai simpul penting antara manufaktur berteknologi tinggi, robotika industrial, dan rantai pasokan global, menjadikannya lokasi yang ideal untuk Pusat Unggulan Physical AI Center of Excellence yang dibangun melalui aliansi strategis Deloitte.
"Kami membantu klien untuk melangkah lebih jauh dari sekadar proyek percontohan, menuju penerapan skala penuh dengan cara memanfaatkan simulasi, tata kelola, dan transformasi tenaga kerja untuk membuka potensi penuh Physical AI secara aman, bertanggung jawab, dan cepat." ujar David Hill, CEO Deloitte Asia Pacific.
Deloitte menilai perusahaan yang lebih cepat membangun kapabilitas PAI berpotensi memperoleh keunggulan kompetitif jangka panjang. Sebaliknya, keterlambatan dalam mengadopsi teknologi ini dapat menghambat efisiensi sekaligus mengurangi peluang pembelajaran organisasi.
“Para pionir dan pelaku PAI yang saat ini bekerja keras di fasilitas produksinya masing-masing saat ini pada dasarnya akan menentukan standar dan membentuk aturan main persaingan industry untuk dekade kedepan,” katanya, menambahkan.
