Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kisah Jamu IBOE, Perusahaan Jamu Berusia di Atas 100 Tahun
Jamu IBOE. (Dok. Jamu IBOE)

Jakarta, FORTUNE - Jamu identik dengan minuman kesehatan tradisional. Jamu IBOE berupaya mengubah persepsi itu melalui modernisasi produk. Generasi keempatnya punya visi membuat perusahaan tetap relevan melintas abad.

Tumbuh di tengah-tengah keluarga yang familiar dengan minuman herbal membuat Stephen Walla terbiasa mengonsumsinya. Saat berbincang secara virtual dengan Fortune Indonesia pada petang, akhir Oktober lalu misalnya, Presiden Direktur PT Jamu Iboe Jaya itu ditemani secangkir air jahe hangat.

“Kami dari kecil cukup banyak diberikan minuman dan makanan tradisional juga jamu-jamuan. Untuk menjaga kesehatan kami diberikan minuman-minuman seperti temulawak, kacang hijau, [kacang] merah,” katanya. “Makanya sampai sekarang pun, saya terus terang ya, cukup health conscious.”

Gaya hidupnya yang satu itu tak lepas dari latar belakang keluarganya. Stephen merupakan generasi keempat dari Tan Swan Nio yang merupakan peramu jamu asal Surabaya. Pada 1910, Tan dan anaknya (Siem Tjiong Nio), merintis cikal-bakal PT Jamu Iboe Jaya: Djamoe Industrie en Chemicalen Handel “IBOE” Tjap 2 Njonja di Surabaya.

Dari cerita yang Stephen dengar, nenek buyut dari pihak ibunya itu memutuskan memulai usaha jamu rumahan ketika wabah merebak di Jawa Timur pada 1910-an. “Memang saat itu ada wabah, batuk, paru-paru, dan pneumonia. Berawal dari sana, kelihatannya pendiri ini, [dengan] naluri dari seorang ibu, ingin membantu,” ujarnya.

Hingga saat ini pun, sebetulnya pengobatan herbal termasuk jamu masih menjadi pilihan masyarakat. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mencatat, enam dari sepuluh orang Indonesia mengonsumsi jamu. Belum lagi, lewat Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) Kementerian Kesehatan RI, Badan Litbangkes telah menghimpun lebih dari 33.000 ramuan obat tradisional per Juni 2025.

“Karena itu, terpikir untuk membuat ramuan jamu kesehatan. Untuk mencegah supaya tidak sakit dan juga walaupun sakit, diberikan ramuan obat-obatan itu untuk bisa lebih cepat sembuh. Warisan tradisi dan budaya bangsa kita,” katanya.

Stephen sendiri baru resmi bergabung dengan perusahaan keluarganya itu pada 2003, setelah menempuh pendidikan di University of Maryland at College Park, Amerika Serikat. Ia mengantongi gelar ganda: Sarjana Sains jurusan Informasi Teknologi serta jurusan Ilmu Manajemen dan Statistik. Sebelum pulang kampung, ia bekerja sebagai System Analyst, Programmer & Architect (1998–2003) di Convergys Corporation, penyedia layanan manajemen pelanggan dan manajemen informasi.

Transisi dan regenerasi

Salah satu outlet Jamu IBOE. (Dok. Jamu IBOE)

Stephen lahir sebagai bungsu dari dua bersaudara. Bidang usaha keluarga mereka bervariasi: dari hotel, makanan dan minuman, hingga rokok. Sebagai ‘calon penerus’, ia dan kakaknya, Ronald Walla, telah dikenalkan dengan ‘karakteristik’ setiap lini bisnissejak dini.

Saat memilih pendidikan tinggi pun, meski tertarik dengan bidang teknologi dan informasi, keduanya tetap mengambil kelas bisnis dan manajemen. “Mungkin di alam bawah sadar akhirnya muncul [pemikiran], ‘oh, sepertinya saya perlu ya ada pendidikan tentang bisnis’. Meski waktu itu tertarik mempelajari IT tapi kelas-kelas bisnis, segala macam, itu tetap kami ambil,” katanya.

Kembali dari Negeri Paman Sam, Stephen sempat ditugaskan sebagai General Manager selama hampir 5 tahun, dan baru menjadi nakhoda mulai 2007. Sementara itu, sang kakak memimpin bisnis rokok—PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).

“Pada prinsipnya, orang tua itu ingin kami, kalau bisa, jangan memimpin di perusahaan yang sama. Supaya bisa bagi tugas,” ujarnya. “Saya merasa, bidang kesehatan sangat dibutuhkan dan ruang untuk bertumbuhnya sangat besar, sangat luas untuk kita bisa kembangkan.”

Saat menakhodai Jamu IBOE, selayaknya pelayaran di laut lepas, kapalnya kerap diadang gelombang. Ada yang rendah, tapi ada pula yang tinggi. Usia perusahaan yang sudah melampaui satu abad pun menambah tantangan tersendiri. Ada harapan dan kekhawatiran dari para pendahulu terhadap para pewaris dalam mengembangkan usaha.

“Mereka pikir, wah akselerasi ini mungkin inginnya enak-enak aja. Tidak mau kerja keras, tidak mau konsentrasi, tidak mau fokus. Kekhawatiran-kekhawatiran itu dari orang tua pasti ada,” katanya.

Di luar dinamika keluarga, Stephen mengidentifikasi setidaknya ada empat tantangan yang saling terkait dalam industri jamu: persepsi, regenerasi, regulasi, dan sosialisasi. Persepsi bahwa jamu itu ‘kuno dan tradisional’, yang kurang lebih menyebabkan minuman itu kurang dikenal generasi muda. Tentunya, itu pun dipengaruhi aspek regulasi dan sosialisasi.

Sebagai lulusan saintek, Stephen menekankan pendekatan berbasis analisis data dalam setiap keputusannya. Pola pikirnya diasah untuk mencari solusi secara bertahap. Itu pun berlaku saat merumuskan strategi Jamu IBOE guna mengatasi berbagai tantangan. Khususnya terkait regenerasi.

“Waktu itu, setelah pulang ke rumah, saya lihat teman-teman saya sendiri, siapa yang minum jamu? Sepertinya tidak banyak ya. Kalau saya tawarkan pun sepertinya, [mereka bilang] rasanya inilah, itulah,” katanya. “Kalau teman-teman saya sendiri saja tidak pernah minum jamu, bagaimana masyarakat luas?”Stephen kemudian menyusun strategi dengan hati-hati. Ia juga beroleh masukan dari banyak pihak, termasuk tim pemasaran dan penjualan. “Kemudian data dari mereka kami berikan ke tim penelitian dan pengembangan,” katanya.

Hasilnya, Jamu IBOE merumuskan strategi regenerasi. Tujuan jangka panjangnya sederhana: melekatkan jamu sebagai gaya hidup generasi muda. Untuk merealisasikan itu, ada empat aspek yang digarap: produk, konsumen, penjual jamu, dan tempat minum jamu.

Inovasi kemudian dijalankan secara bertahap. Jika dulu hanya memproduksi jamu tradisional, kini Jamu IBOE juga membuat minuman dan suplemen kesehatan,serta herbal juice dan herbal mix drink. Bahkan, mereka merilis merek baru bernama IBOE Natural Drink. Perusahaan juga melakukan sosialisasi secara rutin di berbagai acara kesehatan/kebugaran, parawisata, gaya hidup, juga sekolah dan kampus. Contohnya, kolaborasi dengan Duta Wisata & Kota Provinsi Indonesia, seperti Cak Ning dan Raka Raki. Mereka juga membuka program kemitraan yang disertai edukasi dan pelatihan.

Sejalan dengan itu, konter-konter jamu modern IBOE Herbal Bar dibuka di berbagai tempat yang erat dengan kebutuhan gaya hidup masyarakat, seperti mal, pujasera, tempat wisata, kampus, hingga rumah sakit. Saat ini, Jamu IBOE sudah memiliki beberapa IBOE Herbal Bar di sejumlah RS, Kampus, dan mal.

Mereka juga bermitra dengan merek Suwe Ora Jamu (SOJ) untuk membuka kedai SOJ di Jakarta dan Yogyakarta. Beberapa lokasinya di Sarinah, Thamrin City, Salihara Art Center, M-Bloc, dan Jalan Kraggan (Yogyakarta). Selain itu, Jamu IBOE juga masuk ke bisnis F&B melalui IBOE Griya Herba dengan konsep toko sekaligus kafe di Surabaya.

Editorial Team