Bogor, FORTUNE – PT Eurokars Motor Indonesia (EMI) membawa Mazda memasuki babak baru di Indonesia. Setelah hampir satu dekade berstatus sebagai agen pemegang merek (APM), perusahaan mulai merakit kendaraan secara lokal melalui peresmian Mazda Indonesia Plant di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (28/7). Investasi senilai lebih dari Rp400 miliar digelontorkan untuk membangun fasilitas ini.
Presiden Direktur PT Eurokars Produksi Pratama sekaligus Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, Ricky Thio, mengatakan pembangunan pabrik tersebut merupakan komitmen jangka panjang Mazda terhadap industri otomotif nasional.
"Melalui investasi ini, kami menghadirkan standar manufaktur global Mazda sekaligus menegaskan komitmen jangka panjang kami," kata Ricky di Bogor, Jawa Barat, dikutip Rabu (29/7).
Mazda Indonesia Plant berdiri di atas lahan hampir 65.000 meter persegi. Fasilitas ini dilengkapi lini produksi, area validasi kualitas, dedicated test track, hingga berbagai fasilitas pendukung yang dirancang mengikuti standar-standar manufaktur global Mazda.
Pada tahap awal, pabrik tersebut memproduksi Mazda CX-30 sebagai model pertama rakitan lokal dengan kapasitas lebih dari 10.000 unit per tahun melalui pengoperasian dua shift. Namun, kapasitas tersebut bukan menjadi target utama perusahaan.
Pabrik ini dibangun sebagai dedicated vehicle assembly facility, berbeda dari fasilitas perakitan yang menggunakan shared assembly line.
Seluruh peralatan, metode kerja, hingga proses produksi dirancang secara khusus untuk kendaraan Mazda agar mampu menjaga konsistensi kualitas sesuai standar global perusahaan.
Seluruh proses produksi berlangsung secara terintegrasi, mulai dari penerimaan komponen completely knocked down (CKD), pengelolaan material melalui Warehouse Management System (WMS), proses kitting, hingga distribusi komponen ke setiap stasiun perakitan.
Aktivitas produksi didukung penerapan Manufacturing Execution System (MES) yang memungkinkan setiap komponen, setiap tahapan proses, hingga setiap kendaraan terdokumentasi secara digital. Sistem tersebut membuat seluruh riwayat produksi kendaraan memiliki tingkat ketelusuran yang tinggi.
Setelah proses perakitan selesai, setiap kendaraan menjalani serangkaian pengujian kualitas mulai dari body setting, wheel alignment, dynamic test di lintasan uji khusus, water leak test, under body inspection, final inspection, hingga product audit.
Seluruh hasil inspeksi kemudian divalidasi melalui Mazda Quality Index for Customer (MQIC) sebelum kendaraan didistribusikan kepada konsumen.