Jakarta, FORTUNE – PT Bank Hibank Indonesia (Hibank) mengevaluasi kualitas aset, efisiensi, dan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) akibat rugi bersih Rp182,89 miliar pada kuartal III-2026. Evaluasi ini disampaikan di Jakarta, Jumat (6/11), sebagai respons atas pembengkakan rasio kredit bermasalah perusahaan.
Rugi bersih bank digital anak usaha Bank Negara Indonesia (BNI) ini berasal dari lonjakan pencadangan. Beban CKPN melesat dari Rp186,25 miliar pada September 2025 menjadi Rp608,06 miliar pada September 2026. Penambahan bantalan risiko ini memotong laba bersih perusahaan secara langsung.
Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross Hibank naik dari 0,93 persen menjadi 3,11 persen. Pada periode yang sama, NPL net ikut terkerek dari 0,14 persen menjadi 1,38 persen.
Direktur Keuangan Hibank, Ricky Budiono, menyebut penyesuaian CKPN sejalan dengan profil risiko aset keuangan dan kualitas kredit. Perusahaan kini mengevaluasi kualitas portofolio kredit serta mengendalikan risiko.
"Pertumbuhan kredit harus diikuti pengelolaan risiko yang makin disiplin. Karena itu, prioritas kami bukan semata-mata mengejar pertumbuhan penyaluran, tetapi memastikan kualitas portofolio tetap menjadi pertimbangan utama dalam setiap keputusan bisnis," ujar Ricky melalui keterangan resmi kepada Fortune Indonesia di Jakarta, Jumat (6/11).
Di tengah tekanan tersebut, fungsi intermediasi bank tetap berjalan. Pendapatan bunga Hibank tumbuh 4,66 persen secara tahunan (YoY). Penghimpunan dana tabungan juga naik 6,22 persen (YoY).
Terkait likuiditas, rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) Hibank mencapai 90,68 persen per September 2026. Angka ini melompat dari 65,97 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ricky menilai rasio tersebut berada dalam batas ideal. Manajemen akan mengelola likuiditas, menghimpun dana pihak ketiga (DPK), serta mendorong transaksi nasabah. Penerapan tata kelola perusahaan menjadi prioritas penguatan fundamental.
"Ke depan, kami akan lebih selektif dalam mengembangkan bisnis dengan mempertimbangkan kualitas pertumbuhan dan kapasitas perusahaan. Fokus kami bukan hanya meningkatkan aktivitas usaha, tetapi juga memastikan setiap langkah pengembangan bisnis mampu mendukung perbaikan profitabilitas dalam jangka panjang," kata Ricky.