Jakarta, FORTUNE - Di sebuah Teluk Ekas, Lombok Timur, jauh dari riuh Mandalika maupun keramaian Kuta Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), geliat nadi pariwisata bergerak lebih tenang, tapi pasti. Kawasan itu menawarkan sesuatu yang kini terhitung langka dalam industri pariwisata: keaslian, dan ruang terbatas.
Founder Innit Lombok, Michal Tyles, menyebut Teluk Ekas memiliki prospek jangka panjang karena secara geografis relatif tertutup, dan dikelilingi perbukitan serta garis pantai yang secara alami membatasi pembangunan berlebihan.
“Keaslian ini telah menjadi faktor pendorong utama nilai dalam pariwisata premium, seiring meningkatnya minat wisatawan terhadap pengalaman yang tenang, autentik, dan bermakna, dibandingkan dengan fasilitas yang bersifat komersial semata,” kata dia kepada Fortune Indonesia, Sabtu (31/1).
Keterbatasan ruang inilah, kata Michal, yang membuat Teluk Ekas menarik bagi investor yang mengejar apresiasi nilai jangka panjang. Berbeda dari destinasi yang rentan mengalami overdevelopment, pasokan lahan di Ekas akan tetap terbatas, sementara permintaan cenderung meningkat mengikuti tren wisata premium dunia.
Innit Lombok memanfaatkan karakter kawasan itu dengan membangun proyek menjaga kepadatan. Dari total 52.000 meter persegi lahan, hanya sekitar 25 persen yang digunakan untuk struktur dan infrastruktur. Selebihnya dibiarkan tetap alami, mulai dari bukit, vegetasi asli, hingga ekosistem pantai akan dipertahankan sebagai aset lingkungan yang memberikan nilai tambah.
Fortune Indonesia sempat merasakan sendiri bagaimana kawasan ini menjaga karakternya. Perjalanan menuju Innit Lombok saja sudah terasa seperti membuka babak baru: tamu dapat tiba dengan perahu kayu dengan melintasi laut, atau melalui jalur darat yang lengang dan hampir tidak bersinggungan dengan keramaian.
Setibanya di area resor, pemandangan hamparan pasir putih langsung menyambut dengan kesunyian.
Di tengah bentang alam yang masih alami, Innit Lombok hanya terdiri dari tujuh beach house kontemporer yang berdiri tepat di tepi pantai. Yang membuatnya semakin istimewa, ketujuh vila tersebut merupakan karya tiga maestro arsitektur Indonesia—Andra Matin, Gregorius Supie Yolodi, dan Maria Rosantina.
Dengan hanya menggunakan empat material utama: beton, kaca, batu, dan kayu, mereka menciptakan ruang yang modern yang terinspirasi dari Rumah Lumbung Lombok. Hasilnya, bentuk arsitektur yang tampak sederhana, namun setiap detailnya menyatu dengan angin, cahaya, dan lanskap sekitar.
Salah satu elemen yang membuat Innit berbeda adalah cara mereka menggabungkan properti dengan hospitality dan desain. Innit Residence hanya terdiri dari 27 kavling, dengan luasan berkisar antara sekitar 465 meter persegi hingga 1.000 meter persegi. Masing-masing dilengkapi dengan desain vila kurasi yang menekankan prinsip open living, material lokal, dan hubungan langsung dengan alam.
Tetapi, keunikan Innit tidak berhenti pada desain fisik. Pada sisi operasional, pengelolaan vila menggunakan pendekatan hospitality-first. Dengan keanggotaan dalam jaringan Design Hotels dan ekosistem Marriott Bonvoy, Innit mendapatkan visibilitas global yang berdampak pada okupansi sepanjang tahun.
“Kami tidak menjual vila saja. Kami menciptakan destinasi yang hidup, bercerita, dan memiliki komunitas,” ujar Michal.
Model ini membuat properti tidak hanya bergantung pada musim. Kombinasi harga dinamis, branding, dan storytelling yang konsisten menciptakan rental yield yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Perkembangan infrastruktur di Lombok, kata Michal, juga menambah daya dorong. Rute penerbangan menuju bandara internasional Lombok terus bertambah, akses jalan ke Lombok Timur meningkat pesat, dan kapasitas utilitas diperbaiki mengikuti permintaan.
Di sisi lain, Ekas tetap menjaga jarak aman dari keramaian.
“Aksesibilitas meningkat pada tingkat yang tepat—cukup untuk mendukung pariwisata berkualitas, namun tidak sampai merusak eksklusivitas,” kata Michal.
Profil wisatawan pun berubah. Ekas kini didominasi oleh traveller premium yang mencari pengalaman slow travel, koneksi dengan komunitas lokal, dan ruang privat yang jauh dari keramaian.
Sama seperti destinasi berkembang lainnya, Ekas memiliki risikonya sendiri. Michal menyebut beberapa faktor penting yang harus diperhatikan investor: timeline regulasi, kemajuan infrastruktur, hingga ekspektasi return of investment (ROI) yang harus realistis.
Innit Residence dirancang sebagai investasi jangka menengah hingga panjang.
“Mereka yang selaras dengan kurva pertumbuhan kawasan akan berada di posisi terbaik untuk meraih manfaat,” kata Michal.
Innit pun menempatkan masyarakat lokal sebagai pusat pengembangan. Strateginya tak hanya menciptakan properti, tapi juga ekosistem ekonomi: lapangan kerja, pelatihan keterampilan, pemasok lokal, hingga peluang usaha pendukung. Dalam jangka panjang, kolaborasi inilah yang menjaga stabilitas destinasi.
