Jakarta, FORTUNE - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyatakan daya beli masyarakat yang sempat bergerak ke arah positif pada awal tahun kini mulai melemah. Setelah terdorong momentum musiman seperti Imlek dan Lebaran, konsumsi domestik tekstil dan produk tekstil (TPT) mulai mengalami perlambatan pada akhir Maret 2026.
Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa, menjelaskan periode Desember 2025 hingga Februari 2026 sempat menjadi fase pemulihan bagi industri. Permintaan domestik meningkat seiring dengan perayaan hari besar yang biasanya mendorong belanja masyarakat.
“Apalagi bulan Maret peningkatannya, karena ada Imlek dan Lebaran. Itu daya beli membaik” ujarnya saat ditemui di ajang Indo Intertex 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (15/4).
Sebagai konteks saja, Indo Intertex 2026 yang digelar pada 15–18 April di JIExpo Kemayoran merupakan penyelenggaraan ke-22 dengan tema When Textile Meets Innovation. Pameran ini menghadirkan lebih dari 800 peserta dari 29 negara dan menargetkan sekitar 35.000 pengunjung profesional.
Namun, tren positif yang disebut di muka tidak bertahan lama. Memasuki akhir Maret, daya beli masyarakat kembali melemah, sehingga menghambat momentum pemulihan pada awal kuartal pertama 2026.
Di sisi lain, tekanan juga datang dari kinerja ekspor. Jemmy mengakui penurunan tidak terelakkan, terutama akibat gangguan pasokan bahan baku yang berdampak langsung pada volume produksi dan pengiriman ke pasar luar negeri.
“Kami tidak menampik pasti ada penurunan. Karena supply menurun, ekspor juga ikut terpengaruh,” katanya.
Permasalahan menjadi kian kompleks dengan munculnya gangguan logistik. Waktu pengiriman bahan baku maupun produk jadi ke negara tujuan mengalami keterlambatan. Pada akhirnya, hal tersebut menambah tekanan pada performa ekspor industri tekstil nasional.
Sementara itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga tidak memberikan keuntungan signifikan bagi pelaku industri. Jemmy menjelaskan struktur biaya dan harga jual yang sama-sama berbasis dolar AS membuat depresiasi rupiah tidak serta-merta meningkatkan margin keuntungan.
“Bahan baku menggunakan dolar AS, minyak bumi juga, dan harga jualnya juga dolar AS,” ujarnya.
Meski dihadapkan pada berbagai tantangan, API menilai industri tekstil Indonesia masih memiliki fondasi kuat untuk bertahan di kancah global. Namun, keberlanjutan posisi tersebut sangat bergantung pada kemampuan industri beradaptasi melalui inovasi dan kolaborasi lintas sektor.
Transformasi industri disebut terus berjalan, mulai dari investasi teknologi, peningkatan produktivitas, hingga penguatan praktik berkelanjutan. Upaya ini dinilai penting dalam menjaga daya saing di tengah perubahan lanskap perdagangan global.
Selain itu, industri tekstil tetap memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional, terutama untuk menyerap tenaga kerja dan menghubungkan rantai pasok dari hulu hingga hilir.
“Sinergi antara dunia usaha, pemerintah, asosiasi, dan mitra internasional menjadi kunci membangun ekosistem tekstil yang kompetitif,” kata Jemmy.
