Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bukan Cuma Biodiesel, Sawit Kini Bisa Diolah Jadi Bensin
Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang aktif dalam rekayasa katalis dan sistem pemrosesan C.B. Rasrendra saat memaparkan progress pengembangan bensin sawit (BENSA) di kantor BPDP, Jakarta, Rabu (15/7). (Eko Wahyudi/Fortune Indonesia)
  • Peneliti ITB berhasil mengembangkan BENSA, teknologi yang mengubah minyak sawit menjadi bahan bakar mirip bensin menggunakan katalis Merah Putih untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
  • Model kilang mini terdistribusi diusulkan agar daerah terpencil dapat memproduksi bahan bakar sendiri, sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular dengan pemanfaatan limbah minyak jelantah.
  • Tantangan utama pengembangan BENSA ada pada aspek keekonomian karena harga minyak nabati masih tinggi, sehingga diperlukan hilirisasi dan diversifikasi produk petrokimia agar proyek layak secara finansial.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE – Pemanfaatan kelapa sawit sebagai sumber energi terus berkembang. Jika selama ini komoditas andalan Indonesia lebih dikenal sebagai bahan baku biodiesel, kini peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil mengembangkan BENSA (Bensin Sawit), teknologi yang mengubah minyak sawit menjadi bahan bakar menyerupai bensin.

Akademisi ITB yang aktif pada bidang rekayasa katalis dan sistem pemrosesan, C.B. Rasrendra, mengatakan inovasi tersebut menunjukkan sawit memiliki potensi lebih luas sebagai sumber energi terbarukan. Menurutnya, pengembangan bensin sawit dapat meningkatkan nilai tambah komoditas sawit sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

"BENSA merupakan salah satu contoh bagaimana hasil riset mampu membuka peluang pemanfaatan baru bagi kelapa sawit. Ke depan, inovasi seperti ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendorong tumbuhnya industri berbasis sumber daya domestik," kata dia dalam media breafing di kantor Badan Pengelola Dana Perkebunan, Jakarta, Rabu (15/7).

Teknologi BENSA dikembangkan melalui proses catalytic cracking menggunakan katalis Merah Putih hasil karya peneliti Indonesia. Melalui teknologi tersebut, minyak sawit dipecah menjadi fraksi hidrokarbon yang memiliki karakteristik menyerupai bensin.

Menurut Rasrendra, perjalanan riset tersebut bukanlah hal baru. Penelitian mengenai bensin sawit telah dimulai sejak 1982 ketika para peneliti mencoba mencari cara mengubah limbah sawit menjadi bahan bakar cair.

"Dari tahun 1982 hingga 1985 dengan alat yang sangat terbatas kami mencari sistem katalis yang cocok untuk mengubah limbah sawit menjadi bensin," katanya.

Meski demikian, ia mengakui perjalanan inovasi tersebut tidak berjalan mulus. Banyak hasil penelitian perguruan tinggi yang berhenti di laboratorium karena tidak mampu memasuki tahap komersialisasi.

"Kami merasakan banyak karya riset dan inovasi yang tidak lanjut ke tahap berikutnya, yang sering disebut terjebak di 'jurang kematian' atau valley of death. Riset berhenti di jalan karena belum mendapatkan mitra yang bisa membantu mendorong ke kelas berikutnya," ujarnya.

Kilang mini untuk daerah terpencil

Berbeda dari konsep kilang minyak konvensional yang berskala besar, ITB justru mengusulkan pembangunan kilang-kilang kecil yang terdistribusi di berbagai daerah.

Menurut Rasrendra, model tersebut dinilai lebih sesuai mendukung ketahanan energi di wilayah yang sulit dijangkau distribusi bahan bakar minyak (BBM) berbasis fosil.

"Salah satu strategi yang kami usulkan adalah kapasitas kilang yang bukan dalam ukuran besar, tetapi kecil dan terdistribusi, sehingga dapat membantu penyelesaian persoalan pangan dan energi di daerah yang tidak mudah dijangkau distribusi BBM fosil. Dengan demikian, aspek logistik dan ketahanan energi daerah bisa ikut diperkuat," katanya.

Selain memanfaatkan sawit, konsep tersebut juga dirancang fleksibel sehingga pada masa mendatang dapat menggunakan berbagai jenis minyak nabati lain sebagai bahan baku.

"Tidak semua daerah di Indonesia bisa menanam sawit, tetapi minyak nabati lain juga memiliki struktur kimia yang mirip sehingga kami bisa mengatur fleksibilitas bahan bakunya," ujarnya.

Rasrendra menjelaskan, pengembangan BENSA juga mengedepankan prinsip ekonomi sirkular. Dalam prosesnya, fraksi minyak yang digunakan sebagai bahan pangan dipisahkan dari fraksi untuk energi. Setelah digunakan, limbah minyak goreng atau jelantah juga dapat kembali diolah menjadi bahan bakar.

"Ketika masyarakat menggunakan minyak untuk pangan, limbahnya berupa minyak jelantah juga bisa diolah kembali. Dengan konsep circularity seperti itu, keberlanjutan sistem energi bisa semakin baik," katanya.

Namun demikian, tantangan utama pengembangan bensin sawit saat ini bukan lagi pada aspek teknologi, melainkan keekonomian. Menurut Rasrendra, harga bahan baku minyak nabati masih relatif tinggi dibandingkan harga bensin berbasis minyak bumi.

"Tantangan akhirnya adalah keekonomian. Harga bensin masih murah, sementara feedstock minyak nabati relatif mahal. Karena itu implementasinya perlu didukung melalui hilirisasi," ujarnya.

Ia menambahkan, agar proyek tersebut layak secara ekonomi, kilang tidak hanya memproduksi bahan bakar, tetapi juga berbagai produk petrokimia bernilai tambah, sebagaimana dilakukan kilang minyak konvensional.

Sementara itu, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) akan menggelar Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 pada 20–21 Juli 2026 sebagai ajang diseminasi hasil riset dan inovasi kelapa sawit.

Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir BPDP, Mochmad Alfansyah, mengatakan riset menjadi salah satu pilar penting meningkatkan daya saing industri sawit nasional. Menurutnya, BPDP ingin menunjukkan bahwa pemanfaatan sawit tidak hanya terbatas pada minyak goreng maupun biodiesel.

"Kami ingin menunjukkan bahwa sawit bukan hanya menghasilkan minyak nabati atau biodiesel. Berbagai hasil riset yang didukung BPDP telah menghasilkan inovasi di bidang pangan, kesehatan, energi terbarukan, biomaterial, hingga rekayasa industri," kata Alfansyah.

Ia menambahkan, BPDP telah mendanai ratusan penelitian yang melibatkan berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Ke depan, hasil-hasil riset tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi dapat dihilirisasikan menjadi teknologi dan produk yang dimanfaatkan oleh industri maupun masyarakat luas.

Curated For You

Editorial Team

Related Article