Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Orang Ini Gunakan AI untuk Kembangkan Vaksin Kanker

Orang Ini Gunakan AI untuk Kembangkan Vaksin Kanker
potret seorang wanita bermain dengan anjing (pexels.com/RDNE Stock project)
Intinya Sih
  • Paul Conyngham, pengusaha teknologi asal Sydney, memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mengembangkan vaksin kanker eksperimental bagi anjingnya.

  • Memanfaatkan bantuan ilmuwan dari University of New South Wales dan analisis AI seperti AlphaFold.

  • Setelah menerima dua dosis vaksin, sebagian besar tumor Rosie menyusut signifikan dan kesehatannya membaik.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE - Seorang pengusaha teknologi asal Sydney, Paul Conyngham, menjadi sorotan setelah memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu mengembangkan vaksin kanker eksperimental. Dia melakukan itu setelah anjingnya, Rosie, didiagnosis mengidap kanker pada 2024.

Awalnya, seperti dirilis Fortune, Senin (16/3), Rosie menjalani perawatan medis konvensional seperti kemoterapi dan operasi. Namun, tumor pada tubuhnya tetap bertahan dan kondisi kesehatannya terus memburuk. Situasi tersebut mendorong Conyngham mencari pendekatan baru dengan memanfaatkan teknologi AI.

Ia kemudian menggunakan ChatGPT untuk menyusun rencana penelitian dan mencari opsi pengobatan. Sistem tersebut juga mengarahkannya pada para ilmuwan di University of New South Wales, khususnya di Ramaciotti Centre for Genomics.

Meski tidak memiliki latar belakang medis, Conyngham sebenarnya memiliki pengalaman pada bidang teknologi. Ia adalah insinyur listrik dan komputasi yang turut mendirikan perusahaan teknologi Core Intelligence Technologies serta pernah menjadi direktur di Data Science and AI Association of Australia.

Setelah menghubungi universitas tersebut, ia membiayai proses pengurutan genom Rosie untuk memahami struktur DNA tumor yang menyerang anjingnya. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan AlphaFold, alat kecerdasan buatan milik Google DeepMind yang mampu memprediksi struktur protein.

Melalui analisis tersebut, Conyngham berhasil mengidentifikasi protein bermutasi yang berpotensi menjadi target terapi. Meskipun sebuah terapi imun yang dinilai cocok sempat ditemukan, perusahaan farmasi menolak menyediakan pengobatan tersebut.

Proyek itu kemudian mendapat dukungan dari ilmuwan nanomedisin, Pall Thordarson, yang juga menjabat sebagai direktur UNSW RNA Institute. Bersama timnya, ia menggunakan data genom yang dikumpulkan Conyngham untuk mengembangkan vaksin kanker berbasis mRNA yang dipersonalisasi.

Menurut Thordarson, yang dikutip dari kantor surat kabar The Australian, vaksin tersebut berhasil dirancang dalam waktu kurang dari dua bulan—sebuah proses yang jauh lebih cepat dibandingkan pengembangan terapi konvensional.

Ia menyebut kasus ini sebagai salah satu contoh awal penerapan vaksin kanker yang dirancang secara personal untuk hewan.

“Ini masih berada di garis depan imunoterapi kanker, dan pada akhirnya teknologi seperti ini berpotensi membantu manusia,” katanya.

Rosie menerima suntikan pertama vaksin tersebut pada Desember lalu, disusul dosis penguat pada Februari. Hasilnya cukup menjanjikan: sebagian besar tumor pada tubuhnya menyusut secara signifikan dan kondisinya membaik.

Meski belum sepenuhnya sembuh—karena beberapa tumor tidak merespons vaksin—kesehatan Rosie dilaporkan meningkat drastis. Ia bahkan kembali aktif bermain dan berlari mengejar kelinci, sesuatu yang sebelumnya sulit dilakukan saat kondisinya memburuk.

Bagi Conyngham, perkembangan itu sudah merupakan kemenangan tersendiri.

“Saya tidak berilusi bahwa ini adalah kesembuhan. Tetapi saya percaya perawatan ini memberi Rosie lebih banyak waktu dan kualitas hidup yang jauh lebih baik,” ujarnya.

 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in News

See More