Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
Kalah dari Malaysia, Indonesia Peringkat 2 Destinasi Wisata Ramah Muslim Dunia
Masjid Istiqlal, Jakarta (IDN Times/Margith Damanik)
  • Indonesia naik ke peringkat kedua destinasi wisata ramah Muslim dunia versi GMTI 2026 dengan skor 79, sejajar dengan Arab Saudi dan Turki, setelah sebelumnya berada di posisi kelima.
  • Dalam kategori destinasi terbaik bagi wisatawan Muslim perempuan, Indonesia menempati posisi kedua bersama Qatar dengan skor 81, menunjukkan meningkatnya kepercayaan terhadap keamanan dan kenyamanan berwisata di Tanah Air.
  • Laporan menyoroti pentingnya transformasi digital dan penguatan layanan halal sebagai kunci mempertahankan momentum pertumbuhan pariwisata Muslim global yang diproyeksikan mencapai 262 juta perjalanan pada tahun 2030.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, FORTUNE - Indonesia mencatat kemajuan signifikan dalam industri pariwisata halal global. Dalam laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 yang dirilis Mastercard-CrescentRating, Indonesia berhasil menempati posisi kedua destinasi ramah Muslim dunia dengan skor 79, sejajar dengan Arab Saudi dan Turki.

Pencapaian tersebut menjadi lompatan penting bagi Indonesia yang pada edisi sebelumnya berada di peringkat kelima. Malaysia masih mempertahankan posisi teratas dengan skor 83, sementara Qatar berada di urutan kelima dengan skor 76.

Kenaikan tiga peringkat sekaligus menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan peningkatan paling menonjol dalam pemeringkatan tahun ini. Hasil tersebut mencerminkan semakin kuatnya ekosistem wisata ramah Muslim di Tanah Air sekaligus meningkatnya daya saing Indonesia di tengah ketatnya persaingan destinasi halal global.

Founder dan CEO CrescentRating, Fazal Bahardeen, mengatakan prospek pasar wisata Muslim global masih sangat menjanjikan. Jumlah perjalanan wisatawan Muslim internasional diperkirakan terus bertambah dan menjadi salah satu motor pertumbuhan industri pariwisata dunia dalam beberapa tahun ke depan.

“Pada 2025, jumlah perjalanan wisatawan Muslim internasional mencapai 196 juta. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 208 juta pada 2026 dan mencapai 262 juta pada 2030,” kata Fazal dalam peluncuran GMTI 2026 di Singapura, Kamis (18/6), mengutip keterangan resmi.

Menurut laporan tersebut, pertumbuhan pasar wisata halal didorong oleh meningkatnya populasi Muslim global yang diperkirakan mencapai 2,57 miliar jiwa pada 2036 atau sekitar 29 persen dari total populasi dunia. Sekitar 70 persen dari populasi tersebut berusia di bawah 40 tahun dan merupakan pengguna aktif teknologi digital.

Fazal menjelaskan karakter wisatawan Muslim saat ini telah mengalami perubahan dibandingkan satu dekade lalu. Jika sebelumnya faktor utama adalah ketersediaan makanan halal, tempat ibadah, dan akomodasi ramah Muslim, kini kehadiran digital sebuah destinasi menjadi pertimbangan yang sama pentingnya.

“Persaingan destinasi telah bergeser dari sekadar ketersediaan fasilitas menjadi kemampuan untuk terlihat dalam ekosistem digital,” ujarnya.

Perkembangan kecerdasan buatan (AI), mesin pencari, hingga platform perjalanan digital membuat wisatawan semakin mengandalkan informasi daring saat menentukan tujuan perjalanan. Karena itu, destinasi yang tidak memiliki informasi lengkap mengenai layanan ramah Muslim berisiko kehilangan visibilitas dalam rekomendasi digital.

Destinasi terbaik bagi wisatawan Muslim perempuan

Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026

Selain masuk tiga besar dunia dalam kategori destinasi ramah Muslim, Indonesia juga menorehkan prestasi pada kategori destinasi terbaik bagi wisatawan Muslim perempuan.

Dalam kategori tersebut, Indonesia menempati posisi kedua bersama Qatar dengan skor 81, berada tepat di bawah Malaysia yang memperoleh skor 84. Arab Saudi dan Turki melengkapi daftar lima besar.

Capaian ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan wisatawan Muslim perempuan terhadap Indonesia sebagai tujuan perjalanan. Kelompok wisatawan ini umumnya mempertimbangkan faktor keamanan, kenyamanan, akses layanan, kemudahan mobilitas, dan ketersediaan informasi saat bepergian.

GMTI 2026 mencatat perempuan Muslim kini menyumbang sekitar 48 persen dari total perjalanan wisatawan Muslim internasional. Mereka juga memiliki pengaruh besar dalam menentukan keputusan perjalanan keluarga, menjadikan segmen ini semakin penting bagi industri pariwisata global.

Posisi Indonesia yang semakin kuat dalam dua kategori sekaligus tidak terlepas dari upaya pengembangan wisata halal dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah dan pelaku industri terus memperluas layanan yang mengakomodasi kebutuhan wisatawan Muslim, mulai dari penyediaan makanan bersertifikat halal, fasilitas ibadah yang mudah diakses, hingga pengembangan wisata berbasis budaya dan keluarga.

Laporan tersebut juga menyoroti kekuatan Indonesia sebagai destinasi multikultural yang menawarkan pengalaman spiritual sekaligus kekayaan alam yang beragam bagi wisatawan Muslim. Dukungan berbagai pemangku kepentingan dan komunitas dinilai berkontribusi dalam memperkuat sektor wisata halal nasional, termasuk melalui penyelenggaraan berbagai agenda berskala besar seperti pameran halal.

Indonesia juga dinilai mampu menggabungkan kebutuhan wisata berbasis syariah dengan berbagai pilihan rekreasi dan gaya hidup. Ketersediaan makanan halal yang luas, fasilitas salat yang bersih di bandara, pusat perbelanjaan, dan ruang publik, serta lingkungan yang aman dan ramah menjadi faktor yang meningkatkan kenyamanan wisatawan Muslim selama berkunjung.

Dengan populasi Muslim terbesar di dunia serta kekayaan destinasi yang membentang dari Aceh hingga Papua, Indonesia memiliki modal kuat untuk terus memperbesar pangsa pasar wisata halal global. Di tengah proyeksi perjalanan wisatawan Muslim yang diperkirakan mencapai 262 juta pada 2030, kenaikan peringkat ini membuka peluang besar bagi sektor pariwisata nasional untuk menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Tantangan berikutnya adalah mempertahankan momentum tersebut melalui peningkatan kualitas layanan dan penguatan transformasi digital agar Indonesia mampu bersaing dengan destinasi unggulan lainnya di tingkat global.

Editorial Team

Related Article