Jakarta, FORTUNE - Indonesia mencatat kemajuan signifikan dalam industri pariwisata halal global. Dalam laporan Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026 yang dirilis Mastercard-CrescentRating, Indonesia berhasil menempati posisi kedua destinasi ramah Muslim dunia dengan skor 79, sejajar dengan Arab Saudi dan Turki.
Pencapaian tersebut menjadi lompatan penting bagi Indonesia yang pada edisi sebelumnya berada di peringkat kelima. Malaysia masih mempertahankan posisi teratas dengan skor 83, sementara Qatar berada di urutan kelima dengan skor 76.
Kenaikan tiga peringkat sekaligus menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan peningkatan paling menonjol dalam pemeringkatan tahun ini. Hasil tersebut mencerminkan semakin kuatnya ekosistem wisata ramah Muslim di Tanah Air sekaligus meningkatnya daya saing Indonesia di tengah ketatnya persaingan destinasi halal global.
Founder dan CEO CrescentRating, Fazal Bahardeen, mengatakan prospek pasar wisata Muslim global masih sangat menjanjikan. Jumlah perjalanan wisatawan Muslim internasional diperkirakan terus bertambah dan menjadi salah satu motor pertumbuhan industri pariwisata dunia dalam beberapa tahun ke depan.
“Pada 2025, jumlah perjalanan wisatawan Muslim internasional mencapai 196 juta. Angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 208 juta pada 2026 dan mencapai 262 juta pada 2030,” kata Fazal dalam peluncuran GMTI 2026 di Singapura, Kamis (18/6), mengutip keterangan resmi.
Menurut laporan tersebut, pertumbuhan pasar wisata halal didorong oleh meningkatnya populasi Muslim global yang diperkirakan mencapai 2,57 miliar jiwa pada 2036 atau sekitar 29 persen dari total populasi dunia. Sekitar 70 persen dari populasi tersebut berusia di bawah 40 tahun dan merupakan pengguna aktif teknologi digital.
Fazal menjelaskan karakter wisatawan Muslim saat ini telah mengalami perubahan dibandingkan satu dekade lalu. Jika sebelumnya faktor utama adalah ketersediaan makanan halal, tempat ibadah, dan akomodasi ramah Muslim, kini kehadiran digital sebuah destinasi menjadi pertimbangan yang sama pentingnya.
“Persaingan destinasi telah bergeser dari sekadar ketersediaan fasilitas menjadi kemampuan untuk terlihat dalam ekosistem digital,” ujarnya.
Perkembangan kecerdasan buatan (AI), mesin pencari, hingga platform perjalanan digital membuat wisatawan semakin mengandalkan informasi daring saat menentukan tujuan perjalanan. Karena itu, destinasi yang tidak memiliki informasi lengkap mengenai layanan ramah Muslim berisiko kehilangan visibilitas dalam rekomendasi digital.
