Baca artikel Fortune IDN lainnya di IDN App
For
You

Liga Baru Persaingan Industri Leasing

Liga Baru Persaingan Industri Leasing
Pengunjung dan pecinta otomotif memadati pameran GIIAS Semarang 2025 di Muladi Dome Undip, Tembalang. (IDN Times/Anggun Puspitoningrum)
Intinya Sih
  • Adira Finance mengakuisisi Mandala Finance dan tiga aset Arthaasia Finance senilai Rp7,04 triliun, menjadikannya perusahaan leasing terbesar ketiga di Indonesia dengan total aset sekitar Rp38,37 triliun.

  • Merger Adira–Mandala menjadi strategi ekspansi untuk memperluas jangkauan pembiayaan ke wilayah timur Indonesia.

  • Grup Astra dan BCA memilih fokus pada efisiensi internal serta loyalitas pelanggan dibanding merger besar-besaran, menandakan konsolidasi industri multifinance makin selektif dan strategis.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, FORTUNE – Pelemahan daya beli hingga melambatnya penjualan otomotif tak menyurutkan langkah ekspansi Adira Finance. Perusahaan pembiayaan di bawah konglomerasi Mitsubishi UFJ Financial Group (MUFG) ini mengakuisisi Mandala Finance pada Februari 2024.

Tak lama berselang, Adira juga mencaplok tiga aset pembiayaan milik Arthaasia Finance.

Presiden Direktur Adira Finance, I Dewa Made Susila, menyatakan aksi korporasi ini penting untuk memenangkan persaingan yang kian kompetitif. Apalagi, ia menyadari bahwa jika dibandingkan perusahaan sejenis, ada satu bagian yang kurang dalam ekosistem Adira.

ā€œAdira Finance itu satu-satunya multifinance yang lengkap segmen pembiayaannya. Masalahnya, kami tidak punya pabrikan saja. Strategi kami bergabung justru untuk bisa bermain di liga yang tertinggi itu,ā€ kata Made kepada Fortune Indonesia.

Setelah akuisisi senilai Rp7,04 triliun, manajemen memutuskan untuk melebur PT Mandala Multifinance Tbk ke dalam PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. Selanjutnya, Adira Finance dengan kode emiten ADMF bertindak sebagai entitas penerima merger dengan MFIN efektif pada 1 Oktober 2025.

Tak tanggung-tanggung, aset hasil merger Adira–Mandala diperkirakan mencapai Rp38,37 triliun. Dengan demikian, Adira Finance akan menghuni peringkat ketiga daftar leasing dengan aset terbesar di Indonesia, naik dua peringkat dari posisi sebelum merger.

Selama ini Grup Astra mendominasi sektor multifinance pada urutan satu sampai tiga melalui entitas: FIFGROUP, Astra Sedaya Finance (ACC), dan Toyota Astra Financial Services (TAF). Merger ini membuat Adira berada di posisi ketiga—di antara Astra Sedaya Finance (ACC), dan Toyota Astra Financial Services (TAF).Ā 

ā€œIni juga salah satu inisiatif agar kita tidak ketinggalan dari ā€˜toko sebelah’. Lebih baik mengejar daripada dikejar, bukan? Tujuan tetap, aspirasinya menjadi top three diukur dari aset dan produk,ā€ kata Made.

Toh, konsolidasi ini lebih dari sekadar perkara gengsi. Menurut Made, pengambilalihan Mandala Finance adalah langkah strategis dalam transformasi model bisnis Adira Finance untuk memperluas jangkauan hingga ke wilayah timur Indonesia.

Catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dari Rp531,37 triliun pembiayaan yang disalurkan oleh perusahaan multifinance, 55,37 persen di antaranya masih mengalir di Pulau Jawa, dan 44,63 persen sisanya ke luar Jawa.

Bahkan jika dilihat lebih terperinci, pulau-pulau di bagian timur Indonesia seperti Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara hanya mendapat 11,1 persen dari total porsi pembiayaan.

Meski porsinya relatif kecil, angka tersebut menunjukkan kenaikan 7,4 persen secara tahunan (YoY) atau lebih tinggi dari pertumbuhan pembiayaan di Pulau Jawa yang hanya tumbuh sekitar 5 persen. Artinya, potensi pertumbuhan di kawasan ini dinilai masih cukup baik.

Strategi petahana multifinance

Ilustrasi Leasing. (IDN Times/Aditya Pratama)
Ilustrasi Leasing. (IDN Times/Aditya Pratama)

Merger dan akuisisi memang memiliki keuntungan strategis. Namun, tak berarti semua harus mengambil langkah yang sama. Pada 2024, lini keuangan masih menyumbang laba bersih Rp8,35 triliun ke Grup Astra, angka tersebut naik 6 persen saat kontribusi laba dari lini bisnis otomotif turun 2 persen secara tahunan.

Apalagi, tiga perusahaan pembiayaan Grup Astra—FIFGROUP, ACC, dan TAF—masih bercokol di lima besar perusahaan leasing teratas Indonesia.

Presiden Direktur TAF, Agus Prayitno Wirawan, mengaku tak ambil pusing meski aset perusahaannya kini di bawah Adira Finance. Ia juga menanggapi dengan santai ketika dimintai tanggapan terkait fenomena merger leasing. Dalam acara temu media Astra Financial di Jakarta beberapa waktu lalu, Agus bahkan berkelakar untuk dicarikan perusahaan yang berminat bergabung dengan TAF.

ā€œTren merger ya? Coba carikan dong pemain lain yang bagus,ā€ ujarnya kepada Fortune Indonesia.

Ia berpandangan tantangan terbesar saat ini bukan pada memperbesar skala usaha, melainkan pada kemampuan mempertahankan loyalitas nasabah dan kualitas aset di tengah daya beli yang lemah.

ā€œFokus kami sekarang adalah untuk meningkatkan pelayanan,ā€ katanya.

Menurutnya, hal itu penting untuk mengerek kontribusi TAF dalam pangsa pasar multifinance yang saat ini masih sekitar 13 persen.

ā€œArtinya masih ada 87 persen potensi pasar. Nah, bagaimana kami bisa memenangkan persaingan adalah bagaimana kami bisa menjaga customer. Bagaimana kami bantu customer supaya tidak mengalami delinquency atau gagal bayar,ā€ ujarnya.

Demi menjaga loyalitas nasabah, Agus mengatakan diversifikasi produk akan tetap menjadi strategi perusahaan agar tetap bisa bertumbuh sesuai target: 7–8 persen

Pada 2024, TAF memiliki 40 cabang dengan pembiayaan ritel kendaraan roda empat sebagai fokus bisnis utama. Perusahaan pembiayaan ini juga menjadi komponen penting dalam ekosistem diler Toyota dan Grup Astra.

Dari sisi kinerja, pendapatan dan laba bersih dari TAF juga tumbuh 12 persen dan 13 persen hingga akhir 2024. Hingga Mei 2025, perusahaan tercatat telah melayani lebih dari 700.000 pelanggan.

Hal senada diungkapkan oleh Tan Chian Hok, Direktur Astra Sedaya Finance (ACC) sekaligus Project Director Astra Financial untuk GIIAS 2025.

Menurutnya, peta jalan bisnis Astra sudah dibagi menurut target konsumennya: TAF dan ACC untuk empat roda, FIFGROUP untuk dua roda. Karena itu, ia menegaskan bahwa tidak ada urgensi untuk melakukan merger, setidaknya dalam waktu dekat.Ā 

ā€œKami memang sudah membagi sesuai lini bisnis. Jadi tidak perlu merger. Karena bukan masalah struktur, tapi soal segmen dan pasar saja,ā€ ujar Tan pada kesempatan yang sama.

Dalam pandangannya, tantangan industri mendatang lebih bersifat struktural terkait kualitas kredit, daya beli, dan kehati-hatian dalam underwriting. Bagi ACC, saat ini fokusnya adalah memperkuat proses seleksi dan analisis kredit sejak awal agar rasio kredit bermasalah (non-performing financing/NPF) tetap terkendali.

Hingga akhir 2024, ACC mempunyai 76 kantor cabang. Dengan pembiayaan ritel kendaraan roda empat sebagai fokus, ACC berhasil juga mengantongi laba bersih Rp1,94 triliun atau naik 4,26 persen sepanjang tahun lalu.

Pendekatan optimisme pragmatis juga dipegang FIFGROUP. Dengan total aset dan pangsa pasar yang masih dominan, perusahaan ini menilai kekuatan jaringan dan pengalaman mengelola pembiayaan di segmen menengah–bawah sebagai pembeda.Ā 

Di industri multifinance, langkah merger tak hanya dilakukan oleh Adira Finance. Pada September 2024, Grup BCA juga melebur BCA Finance dan BCA Multifinance hingga total asetnya menjadi Rp10,99 triliun.

Direktur Utama BCA Finance, Petrus Karim, menyatakan meski akuisisi telah disepakati, proses konsolidasi masih berjalan. Artinya, meski dilakukan dalam lingkup satu grup, proses akuisisi sejatinya tetap bukan hal yang mudah.

ā€œRasanya kami belum siap untuk menyatakan keberhasilan (merger), karena masih dalam tahap penyelesaian dan monitoring,ā€ ujar Petrus ketika diminta konfirmasi oleh Fortune Indonesia.

Lanskap industri multifinance tampaknya akan semakin terkonsolidasi. Setelah Adira dan BCA Finance, OJK kini tengah memproses satu pengajuan izin merger multifinance lain.

Konsolidasi di industri pembiayaan pun mendapat sorotan dari Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Suwandi Wiratno. Ia menilai, langkah merger yang dilakukan Adira Finance dan BCA Finance mencerminkan kebutuhan untuk menciptakan efisiensi operasional, terutama jika entitas yang digabungkan masih berada di bawah satu kelompok usaha.

ā€œKalau mereka satu grup dan operasionalnya mirip, kenapa tidak merger? Sistemnya bisa satu, SDM-nya bisa dirampingkan, kontrolnya juga lebih mudah. Itu semua bisa menghasilkan efisiensi yang memperbaiki profit,ā€ ujar Suwandi saat dihubungi Fortune Indonesia.

Meski demikian, Suwandi tak menampik bahwa langkah anorganik seperti merger membutuhkan biaya dan kesiapan eksekusi yang tak main-main.

ā€œKalau mau beli perusahaan lain, perlu duit banyak. Tapi kalau bertahan dan melakukan konsolidasi internal, itu juga strategi yang valid, apalagi di saat daya beli sedang lemah,ā€ katanya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Bonardo Maulana
EditorBonardo Maulana
Follow Us

Latest in Finance

See More