Perkuat Permodalan, BNI Terbitkan Surat Berharga AT-1 Senilai US$700 juta

- BNI menerbitkan instrumen Additional Tier-1 senilai US$700 juta di luar negeri untuk memperkuat struktur permodalan, tanpa penawaran kepada investor domestik dan dicatatkan di Singapore Exchange.
- Penerbitan AT-1 ini memiliki kupon 7,15 persen per tahun, bersifat subordinasi, perpetual, serta non-cumulative, dengan penyelesaian transaksi dijadwalkan pada 22 April 2026.
- Nilai penerbitan berada di bawah 20 persen dari total ekuitas BNI, sementara laba bersih 2025 tercatat Rp20,04 triliun dan total aset naik menjadi Rp1.362 triliun.
Jakarta, FORTUNE - PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk menerbitkan instrumen Additional Tier-1 Perpetual Non-Cumulative Capital Securities (AT-1) senilai US$700 juta atau setara Rp11,99 triliun.
Okki Rushartomo, Corporate Secretary BNI menyampaikan penerbitan AT1 baru dilakukan di luar negeri dan tidak ditawarkan kepada investor nasional, baik individu maupun institusi.
Dengan demikian, aksi korporasi ini tidak tunduk pada ketentuan Otoritas Jasa Keuangan melalui POJK No. 30/POJK.04/2019 terkait penerbitan efek tanpa penawaran umum.
Meski demikian, AT-1 yang baru ini diterbitkan mengacu pada ketentuan permodalan dalam regulasi OJK terkait Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM). Surat utang ini memiliki karakteristik sebagai instrumen subordinasi, bersifat tanpa jatuh tempo (perpetual), serta imbal hasil yang tidak bersifat akumulatif (non-cumulative).
"AT1 Baru akan dicatatkan pada Singapore Exchange (SGX) dan tidak dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia," demikian tertulisa dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (17/4).
BNI telah merampungkan proses bookbuilding dan penetapan Harga, serta menandatangani Subscription Agreement dengan para manajer pada 15 April 2026.
Dalam proses tersebut, nilai penerbitan ditetapkan sebesar US$700 juta dengan tingkat kupon (distribution rate) sebesar 7,15 persen per tahun. Penyelesaian transaksi (settlement) dijadwalkan berlangsung pada 22 April 2026.
Ia mengatakan, penerbitan surat berharga ini dilakukan sebagai strategi perseroan untuk memperkuat struktur permodalan sekaligus mendukung ekspansi kegiatan usaha ke depan.
Adapun, nilai penerbitan AT-1 tercatat di bawah 20 persen dari total ekuitas perseroan berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2025 yang telah diaudit. Dengan demikian, transaksi ini tidak dikategorikan sebagai transaksi material sesuai ketentuan POJK No. 17/POJK.04/2020.
BNI mencatat laba bersih senilai Rp20,04 triliun per 31 Desember 2025, turun 6,63 persen dibandingkan 2024. Sementara itu, pendapatan bunga bersih BBNI sebesar Rp40,33 triliun, tidak terlalu jauh dari pendapatab bunga bersih 2024 yakni Rp 40,48 triliun.
Adapu, total aset tercatat naik 20,53 persen menjadi Rp 1.362 triliun. Kemudian ekuitas perusahaan naik 5,88 persen menjadi Rp176,34 triliun pada akhir 2025.

















