Jakarta, FORTUNE - PT Bank CIMB Niaga (BNGA) mengantongi laba bersih konsolidasian sebesar Rp6,93 triliun sepanjang tahun lalu. Jumlah ini meningkat 0,53 persen dari Rp6,9 triliun.
Sementara itu, laba sebelum pajak konsolidasian tercatat sebesar Rp8,82 triliun atau tumbuh 1,11 persen secara tahunan. Kinerja ini menghasilkan earnings per share sebesar Rp273,53, yang turut berkontribusi pada pertumbuhan bisnis Bank.
Presiden Direktur & CEO CIMB Niaga Lani Darmawan mengatakan kinerja pada tahun lalu menunjukkan konsistensi peforma serta kesehatan fundamental bisnis.
"Sepanjang tahun tersebut, kami memperkuat posisi likuiditas dan permodalan, di mana hal tersebut semakin memperkuat landasan kami untuk terus bertumbuh sekaligus memastikan memberikan nilai jangka panjang," katanya dalam siaran pers, Kamis (26/2).
Dari sisi operasional bank, CIMB tercatat menyalurkan kredit sebesar Rp238,3 triliun atau tumbuh 4,5 persen secara tahunan. Dari jumlah ini, pertumbuhan penyaluran kredit tertinggi dipegang segmen perbankan korporat sebesar 6,7 persen (YoY), diikuti perbankan konsumer naik 3,4 persen (YoY), dan usaha kecil menengah (UKM) tumbuh 2,0 persen (YoY). Kenaikan di kredit/pembiayaan retail terutama dikontribusikan dari pertumbuhan Kredit Pemilikan Mobil (KPM) sebesar 10,1 persen (yoy).
Sejalan dengan itu, rasio kredit bermasalah bruto (gross non-performing loan/NPL) sebesar 1,81 persen dan cost of credit yang menurun menjadi 0,74 persen. Sementara perolehan return on equity sebesar 13,0 persen menunjukkan kapasitas bank dalam menghasilkan profitabilitas yang stabil.
Dari sisi permodalan, capital adequacy ratio (CAR) dan loan to deposit ratio (LDR) perseroan masing-masing tercatat sebesar 24,8 persen dan 86,8 persen. Total aset konsolidasian adalah sebesar Rp372,7 triliun per 31 Desember 2025, yang semakin memperkuat posisi CIMB Niaga sebagai bank swasta nasional terbesar kedua di Indonesia.
Total Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 3,8 persen menjadi Rp270,5 triliun. Himunan DPK itu dikontribusikan oleh pertumbuhan CASA sebesar 10,1 persen (YoY) menjadi Rp189,5 triliun, yang berkontribusi terhadap rasio CASA menjadi sebesar 70,0 persen.
"Hal ini merupakan hasil upaya CIMB Niaga membina hubungan dengan nasabah yang lebih erat sekaligus meningkatkan pengalaman nasabah secara keseluruhan melalui layanan digital," ujar Lani.
Pertumbuhan bisnis juga dialami lini bisnis syariah. CIMB Niaga Syariah per 31 Desember 2025, membukukan total pembiayaan mencapai Rp55,7 triliun dan DPK tercatat sebesar Rp50,3 triliun.
CIMB Niaga Syariah juga terus memperkuat struktur pendanaannya dengan mengoptimalkan pendanaan yang efisien, melalui pengembangan jaringan berbasis komunitas dan kemitraan strategis berbasis prinsip syariah.
Adapun, penyaluran pembiayaan berkelanjutan sepanjang tahun lalu mencapai Rp59,5 triliun atau 25 perse dari total pembiayaan). Capaian ini didorong oleh ekspansi pembiayaan ke sektor energi terbarukan, segmen UMKM, serta pertumbuhan signifikan pada program sustainability-linked loan dan solusi lainnya dalam portofolio pembiayaan berkelanjutan non-ritel. CIMB Niaga juga mencatat bahwa 70 persen dari portofolio pembiayaan kelapa sawit telah tersertifikasi keberlanjutan.
