NEWS

Gibran Klaim Food Estate Gunung Mas Berhasil, Ini Tanggapan CSIS

Food estate membuka lahan hutan secara serampangan.

Gibran Klaim Food Estate Gunung Mas Berhasil, Ini Tanggapan CSISAktivis Greenpeace, Walhi Kalteng, Save Our Borneo, dan LBH Palangkaraya menyaksikan langsung kegagalan salah satu food estate Jokowi, yakni proyek kebun singkong di Gunung Mas, Kalimantan Tengah. (Dok. Greenpeace Indonesia)
22 January 2024

Jakarta, FORTUNE - Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan, menyoroti klaim Cawapres nomor urut 2, Gibran Rakabuming Raka, ihwal urusan program Food Estate yang dinilai berhasil di beberapa tempat, seperti di Gunung Mas, Kalimantan Tengah.

Dia menilai, program pemerintahan Presiden Joko Widodo yang akan dilanjutkan oleh Gibran jika terpilih nanti sudah salah sejak awal.

“Sekarang pola pikir kenapa food estatenya gagal, karena tujuan awalnya adalah mengambil kayunya itu yang pertama,” kata Deni dalam acara media breafing yang disiarkan secara virtual, Senin (22/1).

Dia menilai food estate yang dibuka di luar Jawa sangat sulit berhasil, karena jenis tanah gambut yang terbilang kurang subur.

Dia juga menilai program ketahanan pangan melalui proyek food estate yang dijalankan oleh Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto merupakan kejahatan lingkungan karena meluas hingga ke wilayah hutan.

“Ini semata-mata membuka hutan secara serampangan,” ujarnya.

Mengulangi kesalahan rezim Soeharto

Kegagalan yang pernah terjadi masa pemerintahan Presiden Soeharto, kata Deni, diulangi lagi pada masa pemerintahan Jokowi. Dan, direncanakan akan dilanjutkan lagi, jika pasangan Capres dan Cawapres Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming terpilih.

“Kalau dibilang berhasil atau enggak, kita bisa melihat laporan Walhi memperlihatkan bahwa rencananya menanam singkon. Bagaimana singkongnya mau berhasil [kalau] menanam singkong di lahan gambut? Diubah menjadi lahan jagung, tapi pakai planter bag,” ujarnya.

Laporan BBC Indonesia, Sabtu (30/12), memberitakan tentang Walhi yang melaporkan komoditas jagung yang ditanam di lahan food estate di Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dipaksakan demi menutupi kegagalan proyek perkebunan singkong yang mangkrak di tangan Kementerian Pertahanan.

Walhi menemukan tanaman jagung ditanam di planter bag dan tanah bekas lahan singkong. Dari amatan mereka, pertumbuhan jagung-jagung setinggi jengkal tangan orang dewasa itu disebut tidak begitu baik.

Harus ada pertanian terpadu dan terintegrasi

Deni menilai keputusan pemerintah untuk menanam jagung lewat platter bag menjadi solusi untuk kesuburan lahan gambut. Namun, hal ini tentu akan memakan lebih banyak biaya, mulai dari pengadaan tanah dari luar wilayah, sampai pembelian platter bag.

“Ini istilahnya sawah palsu karena terlanjur terbuka lahannya dari pada gagal, tapi costly,” ujarnya.

Permasalahan pertanian di Indonesia, kata Deni, sudah terlalu pelik. Ekosistem pertaniannya sudah amburadul, dan SDM pertaniannya terhitung kurang.

Perbaikan pada sektor pertanian, menurutnya, tidak saja harus berurusan dengan penyediaan irigasi dan pupuk murah. Satu-satunya cara Indonesia ingin berhasil adalah pertaniannya harus menguntungkan.

“Caranya adalah kemandirian dan integrasi pertanian dengan perikanan dan peternakan,” katanya.

Related Topics

    © 2024 Fortune Media IP Limited. All rights reserved. Reproduction in whole or part without written permission is prohibited.