Jakarta, FORTUNE - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memastikan bahwa gejolak geopolitik global tidak mengganggu stabilitas keuangan Indonesia.
Ia menyatakan bahwa dampak dari adanya konflik antara Iran dan Amerika Serikat akan terlihat dari ekspor dan harga minyak. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah telah menghitung scenario mengenai lonjakan harga minyak.
“Harga minyak udah naik ke US$80 per barel ya, kita sudah hitung sampai US$92 per barel pun kita masih bisa kendalikan anggaran jadi nggak ada masalah,” ujarnya, dikutip virtual Rabu (4/3).
Dengan demikian, ia menegaskan bahwa tidak ada kekhawatiran berlebih mengenai kondisi geopolitik saat ini.
“Kita bisa adjust kita bisa atur,” tegasnya.
Sementara itu, mengenai kemungkinan memburuknya situasi, termasuk apabila terkendalanya jalur distribusi melalui penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada impor minyak, pemerintah akan melakukan antisipasi dengan memperkuat penerimaan negara, khususnya dari pajak dan cukai.
“ Pastikan aja tax collection dan cukai kita nggak ada yang bocor, udah mengurangi tekanan defisit,” terangnya.
Kemudian, setelah memastikan penerimaan telah optimal, pemerintah akan menghitung dampak dari kejadian tersebut dan mempertimbangkan langkah lanjutan yang akan dilakukan.
Di samping itu, menanggapi keterangan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang mengatakan bahwa persediaan BBM hanya cukup untuk 20 hari, menurutnya gangguan serius baru akan terjadi apabila tidak ada sama sekali supply BBM di Indonesia.
Sehingga, masih terdapat kemungkinan bahwa Indonesia mendapat supply minyak namun dengan harga lebih tinggi.
“Kita bisa hitung asumsi tadi, kita masih bisa mengendalikan defisit kita, ekonomi kita masih bisa maju, dan kalau kita bisa jaga domestic demand yang kontribusinya 90 persen ke ekonomi, kita juga masih bisa survive,” tutupnya.
