Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani sebelumnya telah memaparkan rincian 6 proyek hilirisasi yang mulai dibangun secara bertahap sejak Januari 2026. Proyek-proyek tersebut mencakup sektor mineral, energi baru terbarukan, hingga pangan.
Pertama, pengembangan industri smelter aluminium dari alumina di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi mencapai 2,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp40,45 triliun. Proyek ini menjadi salah satu investasi terbesar dalam paket hilirisasi dan bertujuan memperkuat industri aluminium nasional.
Kedua, fasilitas Smelter Grade Alumina (SGA) dari bauksit, juga berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi sekitar 890 juta dolar AS atau sekitar Rp15 triliun. Fasilitas ini memproses bauksit menjadi alumina sebagai bahan baku utama aluminium.
Ketiga, fasilitas produksi bioavtur di Cilacap, Jawa Tengah, senilai 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp18,54 triliun. Bioavtur merupakan bahan bakar pesawat berbasis nabati yang dikembangkan untuk mendukung transisi energi dan mengurangi ketergantungan pada avtur fosil.
Keempat, pengembangan fasilitas pengolahan kelapa terintegrasi di Morowali, Sulawesi Tengah, dengan nilai investasi sekitar 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,68 triliun. Proyek ini disebut telah mulai berjalan dan menjadi bagian dari hilirisasi sektor perkebunan.
Kelima, pengembangan fasilitas bioetanol dengan nilai investasi sekitar 80 juta dolar AS atau sekitar Rp1,34 triliun. Bioetanol merupakan bahan bakar nabati yang digunakan sebagai campuran bensin, meskipun lokasi proyek ini belum dirinci.
Keenam, pengembangan lima fasilitas budidaya unggas dari total rencana 12 titik lokasi. Proyek ini difokuskan pada hilirisasi sektor pangan untuk memperkuat rantai pasok protein hewani nasional.